MALUTTODAY — Maluku Utara mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) tertinggi di Indonesia pada Agustus 2026, yakni sebesar 5,28 persen. Di tengah tingginya inflasi tahunan tersebut, harga-harga konsumen di provinsi itu justru mengalami deflasi secara bulanan sebesar 0,64 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi yoy Maluku Utara pada Agustus 2026 tercatat dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,25.
Dikutip dari Investortrust, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, secara nasional inflasi pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan dengan IHK 111,97.
“Inflasi yoy tertinggi pada tingkat provinsi terjadi di Provinsi Maluku Utara sebesar 5,28 persen dengan IHK sebesar 114,25,” ujar Ateng dalam pemaparan perkembangan inflasi Agustus 2026 di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Capaian inflasi Maluku Utara tersebut berada jauh di atas angka inflasi nasional.
Ternate Catat Inflasi 5,75 persen
Di tingkat daerah, Kota Ternate mencatat inflasi tahunan sebesar 5,75 persen dengan IHK 114,91.
Sementara itu, Kabupaten Halmahera Tengah mengalami inflasi tahunan sebesar 3,08 persen dengan IHK 111,22.
Dengan demikian, inflasi Kota Ternate berada di atas rata-rata inflasi Provinsi Maluku Utara, sedangkan inflasi Halmahera Tengah tercatat lebih rendah.
Meski inflasi tahunan masih tinggi, perkembangan harga secara bulanan menunjukkan kondisi berbeda. Pada Agustus 2026, Provinsi Maluku Utara mengalami deflasi month to month (mtm) sebesar 0,64 persen.
Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi Maluku Utara atau year to date (ytd) hingga Agustus 2026 tercatat sebesar 3,79 persen.
Maluku Utara Tertinggi di Luar Jawa dan Sumatra
Secara kewilayahan, seluruh 10 provinsi di Sumatra mengalami inflasi secara tahunan pada Agustus 2026. Aceh mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,86 persen, sedangkan Sumatera Selatan terendah sebesar 2,60 persen.
Di Pulau Jawa, seluruh enam provinsi juga mengalami inflasi secara tahunan. Jawa Timur menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi sebesar 3,32 persen, sementara DKI Jakarta terendah sebesar 2,71 persen.
Adapun di luar Jawa dan Sumatra, sebanyak 22 provinsi mengalami inflasi secara tahunan. Maluku Utara menjadi yang tertinggi dengan 5,28 persen, sedangkan Kalimantan Utara mencatat angka terendah sebesar 2,17 persen.
Pada tingkat kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi di Indonesia tercatat di Kabupaten Kapuas sebesar 6,20 persen dengan IHK 114,56.
Sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Morowali sebesar 1,22 persen dengan IHK 113,28.
Harga Makanan dan Transportasi Dorong Inflasi Nasional
Secara nasional, kenaikan harga pada Agustus 2026 terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 9,25 persen. Kemudian kelompok transportasi naik 4,79 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,86 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 2,67 persen. Kelompok kesehatan meningkat 2,12 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,00 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 1,75 persen.
Sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 1,72 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki serta pendidikan masing-masing meningkat 1,20 persen.
Adapun kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 1,01 persen.
Dari sisi andil terhadap inflasi nasional, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan 1,13 persen.
Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,63 persen, sedangkan kelompok transportasi menyumbang 0,58 persen.
Sejumlah komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), cabai rawit, daging sapi, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih mesin (SPM), cabai merah, bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, mobil, telepon seluler, laptop atau notebook, nasi dengan lauk, serta emas perhiasan.
Sebaliknya, beberapa komoditas memberikan andil deflasi, yakni bawang merah, telur ayam ras, tomat, kelapa, tarif jalan tol, dan uang sekolah SMA.
Inflasi Inti Capai 2,92 persen
Berdasarkan komponennya, inflasi tahunan komponen inti tercatat sebesar 2,92 persen dengan andil 1,87 persen.
Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 3,32 persen dengan andil 0,65 persen. Sementara komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 4,06 persen dengan andil 0,67 persen.
Untuk komponen spesifik, energi mengalami inflasi tahunan sebesar 3,18 persen dengan andil 0,36 persen.
Sementara itu, komponen bahan makanan mengalami inflasi sebesar 4,22 persen dan memberikan andil 0,87 persen terhadap inflasi nasional.
Secara bulanan, komoditas yang menjadi pendorong inflasi nasional pada Agustus antara lain daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, beras, kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, SKM, SPM, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, uang kuliah akademi/perguruan tinggi, dan emas perhiasan.
Adapun komoditas yang menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi bulanan antara lain bawang merah, tomat, bawang putih, minyak goreng, bayam, tarif angkutan udara, dan bensin.
Secara nasional, inflasi bulanan Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen, sedangkan inflasi secara kumulatif sejak awal tahun mencapai 1,86 persen.























