Mengenal Johannes Leimena, Tokoh di Balik Cikal Bakal Layanan Kesehatan Primer

JAKARTA — Integrasi Layanan Primer (ILP) yang kini menjadi bagian penting transformasi sistem kesehatan nasional ternyata memiliki akar sejarah panjang. Gagasan untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat telah dirintis Indonesia lebih dari tujuh dekade lalu melalui Bandung Plan yang digagas Dr. Johannes Leimena bersama Dr. Abdoel Patah.

Jauh sebelum konsep Primary Health Care dikenal luas melalui Deklarasi Alma-Ata pada 1978, Bandung Plan telah menawarkan pendekatan pelayanan kesehatan yang menggabungkan upaya kuratif, promotif, preventif, dan kesehatan lingkungan.

Gagasan tersebut lahir ketika sistem kesehatan Indonesia pada awal 1950-an masih sangat berorientasi pada pengobatan. Rumah sakit menjadi pusat pelayanan, sedangkan masyarakat di wilayah pedesaan menghadapi keterbatasan akses.

Dalam situasi tersebut, Leimena melihat bahwa rumah sakit tidak mungkin menjadi satu-satunya jawaban atas persoalan kesehatan masyarakat.

Pelayanan kesehatan, menurut gagasan yang dikembangkan Leimena dan Patah, harus hadir sedekat mungkin dengan masyarakat. Pencegahan penyakit dan edukasi kesehatan perlu dilakukan sebelum masyarakat jatuh sakit atau mengalami komplikasi.

Mengubah Orientasi Pelayanan Kesehatan

Bandung Plan membawa perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap pelayanan kesehatan.

Rumah sakit tidak lagi ditempatkan sebagai satu-satunya pusat layanan, melainkan menjadi bagian dari jaringan pelayanan yang menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.

Konsep tersebut antara lain merancang keberadaan rumah sakit kecil di tingkat kewedanan dan poliklinik di tingkat kecamatan. Tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, dan petugas sanitasi juga diarahkan untuk bekerja secara terpadu.

Pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada pengobatan. Penyuluhan kesehatan, perbaikan gizi, kesehatan ibu dan anak, imunisasi, hingga pengendalian penyakit menular menjadi bagian dari pendekatan tersebut.

Konsep itu pada dasarnya telah memperkenalkan gagasan kesinambungan pelayanan atau continuum of care yang kini menjadi salah satu prinsip dalam penguatan layanan kesehatan primer.

Cikal Bakal Puskesmas

Pemikiran Leimena dan Patah kemudian berkembang dan menjadi salah satu fondasi pembentukan sistem pelayanan kesehatan dasar Indonesia.

Sejak 1952, konsep Patah-Leimena mulai diperkenalkan dalam pendidikan kedokteran di Indonesia. Gagasan tersebut terus dikembangkan hingga kemudian diadopsi dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional 1968 sebagai model pelayanan kesehatan dasar.

Perjalanan panjang itu turut melahirkan sistem Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang kini menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan primer di Indonesia.

Dengan demikian, Puskesmas tidak sekadar menjadi fasilitas tempat masyarakat berobat. Di baliknya terdapat visi untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat sekaligus menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dari pembangunan kesehatan.

ILP Menghidupkan Kembali Semangat Bandung Plan

Lebih dari tujuh dekade setelah Bandung Plan diperkenalkan, semangat yang sama kembali terlihat dalam pelaksanaan Integrasi Layanan Primer (ILP).

Melalui ILP, pelayanan kesehatan tidak lagi semata-mata disusun berdasarkan program, tetapi diintegrasikan berdasarkan siklus hidup manusia. Pelayanan bagi ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa, hingga lanjut usia diarahkan untuk saling terhubung.

Pendekatan tersebut memungkinkan satu kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan menjadi kesempatan untuk memperoleh pelayanan yang lebih komprehensif.

Sebagai contoh, seorang ibu yang membawa anaknya untuk imunisasi dapat sekaligus menjalani pemeriksaan tekanan darah. Begitu pula lansia yang datang untuk mengontrol hipertensi dapat memperoleh edukasi mengenai gizi sekaligus menjalani skrining diabetes.

Dengan pendekatan tersebut, pelayanan kesehatan diharapkan menjadi lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Semangat itu sejalan dengan gagasan Leimena yang sejak awal menempatkan masyarakat sebagai pusat pelayanan kesehatan.

Menjawab Tantangan Penyakit Tidak Menular

Relevansi pendekatan tersebut semakin terlihat ketika tantangan kesehatan Indonesia berubah.

Selain penyakit infeksi yang masih harus ditangani, Indonesia kini menghadapi beban penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker.

Masalahnya, banyak PTM berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Akibatnya, sebagian masyarakat baru mengetahui kondisi kesehatannya setelah penyakit berkembang atau menimbulkan komplikasi.

Dalam kondisi tersebut, pencegahan dan deteksi dini menjadi semakin penting.

Filosofi Bandung Plan yang menempatkan pencegahan sebagai bagian tak terpisahkan dari pelayanan kesehatan kemudian menemukan relevansinya dalam ILP. Skrining kesehatan rutin, deteksi faktor risiko, edukasi masyarakat, serta pemanfaatan data kesehatan menjadi bagian dari upaya menemukan masalah kesehatan sedini mungkin.

Fungsi Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu, dan kader kesehatan pun diperkuat sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Dari Menunggu Pasien Menjadi Menjangkau Masyarakat

Salah satu perubahan penting dalam ILP adalah pergeseran orientasi dari pelayanan berbasis fasilitas menuju pelayanan berbasis wilayah atau community-based care.

Petugas kesehatan tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kondisi kesehatan masyarakat juga dipetakan secara aktif melalui Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).

Pendekatan by name by address memungkinkan kelompok rentan, seperti ibu hamil berisiko tinggi, balita dengan masalah pertumbuhan, penderita hipertensi, dan pasien penyakit kronis, diidentifikasi lebih awal.

Dengan demikian, intervensi dapat dilakukan sebelum kondisi kesehatan berkembang menjadi lebih berat.

Pendekatan tersebut menjadi bentuk modern dari filosofi Bandung Plan yang menempatkan masyarakat sebagai pusat pelayanan kesehatan.

Leimena Conference 2026

Upaya merawat warisan pemikiran Leimena juga mendapatkan momentum melalui penyelenggaraan Leimena Conference 2026.

Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, tenaga kesehatan, dan mitra pembangunan kesehatan untuk membahas masa depan pelayanan kesehatan primer serta merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti.

Momentum itu sekaligus mengingatkan bahwa transformasi layanan primer bukan semata agenda administratif. Penguatan layanan kesehatan primer merupakan bagian dari perjalanan panjang Indonesia dalam membangun sistem kesehatan yang lebih adil dan merata.

Menopang Indonesia Emas 2045

Penguatan layanan kesehatan primer juga memiliki kaitan erat dengan target Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

Pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan mampu menjalani kehidupan lebih lama dalam kondisi sehat.

Karena itu, investasi kesehatan tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan rumah sakit modern dan pemanfaatan teknologi medis. Sistem kesehatan juga membutuhkan layanan primer yang kuat untuk mencegah penyakit, menemukan faktor risiko lebih awal, dan menjaga kesehatan masyarakat.

Lebih dari 70 tahun lalu, Leimena telah menunjukkan arah tersebut melalui Bandung Plan.

Kini, semangat itu dapat diteruskan melalui Integrasi Layanan Primer dengan dukungan data, teknologi digital, dan kolaborasi lintas sektor.

Bandung Plan pada akhirnya bukan sekadar catatan sejarah kesehatan Indonesia. Gagasan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia pernah memiliki pemikiran yang visioner mengenai pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Tantangan generasi saat ini bukan hanya menciptakan gagasan baru, tetapi memastikan warisan tersebut terus disempurnakan dan diterapkan untuk menjawab persoalan kesehatan abad ke-21.

Jika layanan kesehatan primer semakin kuat, Indonesia tidak hanya membangun sistem kesehatan yang lebih baik, tetapi juga memperkuat fondasi sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045—masyarakat yang sehat, produktif, berkeadilan, dan mampu bersaing di tingkat global.

Profil Singkat Dr. Johannes Leimena

Johannes Leimena merupakan dokter, negarawan, dan tokoh pergerakan nasional Indonesia yang lahir di Ambon, Maluku, pada 6 Maret 1905 dan meninggal di Jakarta pada 29 Maret 1977. Ia menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA dan kemudian memperoleh gelar doktor dalam bidang penyakit dalam pada 1939.

Sejak muda, Leimena aktif dalam pergerakan pemuda. Ia terlibat dalam Jong Ambon dan menjadi bagian dari dinamika Kongres Pemuda 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Dalam perjalanan berikutnya, ia dikenal sebagai tokoh yang aktif di bidang politik, pemerintahan, kesehatan, dan kehidupan keagamaan.

Di bidang kesehatan, kiprah Leimena sangat menonjol. Ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan dalam berbagai kabinet sejak era awal kemerdekaan. Pada 1951, ia menggagas Bandung Plan, sebuah model pelayanan kesehatan yang memadukan upaya pengobatan dengan pencegahan dan pemberdayaan masyarakat. Konsep tersebut kemudian berkembang dan menjadi salah satu fondasi sistem Puskesmas di Indonesia.

Leimena juga dikenal sebagai negarawan yang memiliki karier pemerintahan panjang. Selain Menteri Kesehatan, ia pernah menduduki sejumlah jabatan menteri dan Wakil Perdana Menteri pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ia juga beberapa kali dipercaya menjalankan tugas sebagai pejabat presiden.

Dalam kehidupan politik, Leimena merupakan salah satu tokoh Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Ia juga aktif dalam gerakan gereja dan dikenal memiliki pembawaan yang tenang, sederhana, serta mampu diterima berbagai kelompok. Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggambarkan Leimena sebagai negarawan yang beriman, bertanggung jawab, dan memiliki pengabdian luas kepada masyarakat.

Atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Johannes Leimena pada 2010 melalui Keputusan Presiden Nomor 52/TK/Tahun 2010. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *