TERNATE (MALUTTODAY) – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta menegaskan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak cukup hanya memiliki fasilitas Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), tetapi harus menggunakannya secara aktif dan berkelanjutan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Menurut Filianingsih, penggunaan QRIS bukan sekadar menyediakan alternatif pembayaran nontunai, melainkan bagian dari upaya memperbaiki tata kelola usaha, meningkatkan efisiensi transaksi, dan memperluas akses pasar UMKM.
Hal tersebut disampaikan Filianingsih dalam sambutan secara virtual melalui Zoom Meeting pada rangkaian Festival Salawaku 2026 di Benteng Oranje, Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat (6/11/2026).
“Bagi UMKM, QRIS bukan sekadar alternatif pembayaran, melainkan menjadi bagian dari upaya untuk membangun tata kelola usaha yang lebih baik,” kata Filianingsih.
Dia mengatakan, tantangan pengembangan digitalisasi UMKM ke depan bukan hanya memperluas kepemilikan QRIS, tetapi memastikan fasilitas pembayaran digital tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh pelaku usaha.
“Oleh karena itu, tantangan kita ke depan bukan hanya memperluas kepemilikan QRIS, tapi juga meningkatkan penggunaan QRIS secara aktif dan berkelanjutan dalam aktivitas usaha sehari-hari,” ujarnya.
Filianingsih menjelaskan, pemanfaatan teknologi digital dapat membantu UMKM memperluas pemasaran, menjangkau konsumen baru, serta meningkatkan efisiensi transaksi dan pengelolaan usaha.
Karena itu, BI terus mendorong perluasan akseptansi dan penggunaan QRIS sebagai bagian dari transformasi digital ekonomi dan keuangan, termasuk di Maluku Utara.
Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara
Filianingsih menilai penguatan UMKM dan ekonomi kreatif menjadi semakin penting di tengah pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang mencapai 15,35 persen secara tahunan atau year on year pada triwulan II 2026.
“Di Provinsi Maluku Utara, perekonomian pada triwulan dua 2026 tumbuh sebesar 15,35 persen secara year on year. Meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, capaian ini menunjukkan bahwa perekonomian Maluku Utara tetap tumbuh positif di tengah berbagai dinamika dan tantangan ekonomi daerah,” katanya.
Sementara itu, perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen. Adapun inflasi nasional tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan pada September 2026.
Menurut Filianingsih, pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diikuti pemerataan manfaat agar dampaknya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Tantangannya, kata dia, adalah memastikan pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan kesempatan usaha, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
“Namun demikian, pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diikuti dengan pemerataan manfaat yang lebih luas. Tantangannya adalah bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut menciptakan kesempatan usaha, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Festival Salawaku dorong ekonomi kreatif
Upaya mendorong digitalisasi UMKM juga menjadi bagian dari penyelenggaraan Festival Salawaku 2026. BI mendorong penggunaan transaksi nontunai di kawasan festival dengan membiasakan pelaku UMKM menerima pembayaran menggunakan QRIS.
Selain itu, pelaku usaha juga diberikan pemahaman mengenai keamanan transaksi dan perlindungan konsumen.
Filianingsih mengatakan, Festival Salawaku tidak hanya menjadi ruang promosi produk UMKM, tetapi juga mempertemukan kekayaan budaya, kreativitas, dan peluang ekonomi masyarakat Maluku Utara.
Festival tersebut terinspirasi dari kejayaan maritim Maluku Utara sebagai negeri rempah yang memiliki kekayaan tradisi dan budaya.
Berbagai karya unggulan daerah ditampilkan, mulai dari wastra, seni kuliner, hingga produk UMKM yang memadukan kekayaan tradisi dengan inovasi masa kini.
Mengusung tema “Lestarikan Budaya, Kembangkan Karya, Ekosistem Kreatif untuk Ekonomi Inklusif”, Festival Salawaku diharapkan menjadi katalisator pengembangan ekonomi kreatif.
“Festival ini tidak sekadar menjadi panggung untuk menampilkan identitas dan kebanggaan daerah, lebih dari itu festival ini diharapkan menjadi katalis pengembangan ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperluas akses pasar, dan pembiayaan, melestarikan budaya dan pariwisata serta menciptakan nilai tambah ekonomi yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas,” paparnya.
Penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan melalui rangkaian kegiatan Road to Salawaku. Agendanya meliputi pelatihan digitalisasi pangan dan kewirausahaan, peningkatan kapasitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pengembangan ekonomi pesantren, hingga pelatihan wastra bagi penenun pemula.
Adapun puncak Festival Salawaku 2026 menghadirkan berbagai kegiatan, di antaranya lomba kesenian daerah, pagelaran busana kedaerahan, serta perlombaan bertema kebangsaan.
Melalui kegiatan tersebut, BI berharap digitalisasi UMKM semakin berkembang, akses pasar semakin luas, dan ekonomi kreatif Maluku Utara mampu tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan.























