Capacity Building Media Partner 2026: Sinergi Media untuk Informasi yang Berkualitas dan Pariwisata Berkelanjutan

HALUT (MALUTTODAY) – Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara, Fadhil Muhammad menyebut, media massa merupakan rekan atau partner strategis dalam menyebarluaskan kebijakan publik yang telah ditetapkan serta alasan sebuah kebijakan itu diambil.

Hal ini disampaikan Fadhil saat membuka kegiatan Capacity Building Media Partner, bertempat di Meti cottage, Kabupaten Halmahera Utara pada Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, Bank Indonesia sebagai lembaga negara, eksekutor dari kebijakan publik tentunya selalu berinteraksi dengan media. Media merupakan rekan atau partner dari Bank Indonesia sebagai lembaga publik.

“Tidak ada kebijakan publik yang dapat tereksekusi dengan baik, ataupun efektif tanpa adanya dukungan media. Karena kebijakan publik tentunya mempunyai tujuan, punya suatu message yang perlu disampaikan mengapa kebijakan itu diambil,” kata Fadhil.

“Apa manfaatnya bagi masyarakat, dan apa yang ingin disasar. Itu tidak akan bisa tersampaikan apa bila tanpa adanya bantuan media untuk menyebarluasakan,” tambah Fadhil.

Bacaan Lainnya

Fadhil mencontohkan, saat Bank Indonesia menaikkan BI rate (suku bunga acuan), tentu ada alasan kenapa BI rate harus dinaikkan, yaitu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Message (pesan) itu harus diampaikan dengan clear (jelas). Sehingga itu membentuk ekspektasi pada masyarakat bahwa BI tetap hadir, menjaga, melakukan intervensi dan juga mengatur agar nilai tukar tetap stabil di masa depan.

Dia juga menjelaskan, terkait dengan pengendali inflasi dilakukan dalam komponen 4K, yang mana itu adalah keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

“Nah, aspek komunikasi efektif inilah peran dari media sangat besar, karena menyampaikan apa-apa yang dilakukan oleh BI dan pemerintah daerah terkait dengan pengendalian inflasi. Entah itu melakukan gerakan pangan murah, high level meeting untuk bekoordinasi kebijakan apa yang akan dilakukan, itu semua butuh peran media,” jelasnya.

Dia mengatakan, peran media itu penting. Maka kami merasa di Bank Indonesia perlu melakukan memberikan capacity building atau meningkatkan kapasitas skill (kemampuan) dari media-media khususnya di Maluku Utara. Supaya, media-media kita bisa memberikan berita yang lebih berkualitas lagi.

“Saat ini sudah lebih baik, tapi dengan perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, mungkin ada hal-hal yang harus bisa kita pahami dengan AI. Apakah AI bisa meningkatkan kualitas jurnalistik dan sebagainya. Karena mungkin pengolahan data itu sudah bisa diautomasi, atau mungkin brain storming mencari ide itu bisa menggunakan AI,” ujarnya.

Oleh karena itu, maka kegiatan capacity building media partner kali ini mengambil tema “Sinergi Media untuk Informasi yang Berkualitas dan Pariwisata Berkelanjutan”.

“Mengapa pariwisata? Karena Maluku Utara ini, kita tahu memang penopangnya adalah industri pengolahan atau tambang, dan akan ada masanya nanti perlu dorongan dari sektor lainnya,” bebernya.

Ia contohkan, Aceh dengan produksi gasnya, bisa tumbuh dengan sangat tinggi seperti di Maluku Utara. Namun, ketika gas itu habis di Arun, Kabupaten Lhokseumawe maka downgrowth (penurunan pertumbuhan) ekonominya.

“Maluku Utara sendiri pariwisatanya ada potensi di sana. Pemanfaatan pulau Widi, ada juga beberapa pulau eksotik yang belum masuk investor ke dalamnya. Tapi masih butuh kajian pemerintah daerah untuk bisa menjual projek itu agar investor bisa masuk. Kita dari BI juga berkomitmen akan juga membantu membuat feasibility study atau studi kelayakan,” tandasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *