Festival Salawaku 2026, BI Jadikan Perisai Tradisional Simbol Ketangguhan UMKM Maluku Utara

TERNATE (MALUTTODAY) – Bank Indonesia (BI) mengangkat filosofi salawaku, perisai tradisional masyarakat Maluku Utara, sebagai simbol ketangguhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Filosofi tersebut menjadi tema utama Festival Salawaku 2026 yang digelar di Benteng Oranje, Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat (6/11/2026).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Handi Susila mengatakan, salawaku bukan sekadar perlengkapan pertahanan yang digunakan leluhur untuk melindungi diri, melainkan juga merepresentasikan ketangguhan dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai ancaman.

“Salawaku bukan sekadar perlengkapan pertahanan yang digunakan leluhur untuk melindungi diri. Perisai tradisional itu juga merepresentasikan ketangguhan dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai ancaman,” kata Handi dalam sambutannya pada pembukaan Festival Salawaku 2026.

Menurut dia, filosofi tersebut relevan dengan kondisi perekonomian saat ini. Ketidakpastian global menuntut pelaku UMKM semakin adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing.

BI memandang UMKM sebagai salah satu penopang utama perekonomian daerah. Sektor ini dinilai memiliki peran penting dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat, terutama ketika menghadapi tekanan ekonomi.

Melalui Festival Salawaku, BI ingin mendorong UMKM Maluku Utara tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang, memperluas pasar, dan mengambil peran lebih besar dalam rantai perekonomian daerah.

UMKM jadi perisai ekonomi daerah

Peran UMKM dalam perekonomian Maluku Utara terbilang besar. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM, terdapat sekitar 194.000 unit usaha yang mampu menyerap hingga 584.000 tenaga kerja.

Namun, sekitar 95 persen dari jumlah tersebut masih berada pada skala mikro. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya tantangan dalam meningkatkan produktivitas, kapasitas usaha, dan daya saing produk lokal.

Padahal, Maluku Utara memiliki beragam komoditas unggulan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Di antaranya perikanan tangkap seperti tuna, cakalang, dan tongkol, perikanan budidaya, rumput laut, pala, cengkeh, kelapa, hingga kopra.

Selain itu, pertumbuhan industri pertambangan dan smelter di Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan turut membuka peluang pasar bagi UMKM lokal. Peluang tersebut mencakup penyediaan pangan, katering, jasa logistik, hingga berbagai kebutuhan operasional industri.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan UMKM masih menghadapi sejumlah kendala. Mulai dari keterbatasan pembiayaan, tingginya biaya distribusi antarpulau, minimnya fasilitas penyimpanan dingin, hingga keterbatasan sumber daya manusia dan sertifikasi produk.

“Pangsa kredit UMKM di Maluku Utara bahkan baru mencapai 12,17 persen per September 2026, masih jauh di bawah target nasional sebesar 30 persen,” ungkap Handi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BI mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pilar utama, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan.

Ketiga pilar tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan usaha, meningkatkan kualitas produk dan pengelolaan bisnis, serta memperluas akses permodalan melalui sinergi dengan perbankan.

Benteng Oranje jadi ruang pelestarian budaya dan ekonomi

Festival Salawaku 2026 merupakan penyelenggaraan kedua. Tahun ini, BI memilih Benteng Oranje sebagai lokasi kegiatan untuk menghadirkan ruang promosi UMKM di kawasan yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Maluku Utara.

“Pemilihan benteng bersejarah tersebut sekaligus menjadi upaya memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi kreatif,” ujar Handi.

Festival ini tidak hanya menghadirkan pameran produk UMKM, tetapi juga berbagai program peningkatan kapasitas pelaku usaha yang telah dilaksanakan melalui rangkaian Road to Salawaku.

Program tersebut meliputi pelatihan hilirisasi olahan perikanan, kewirausahaan konveksi, budidaya maggot, peningkatan kapasitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga pelatihan wastra bagi penenun pemula.

BI turut menghadirkan program PALITA Pesantren serta business matching pembiayaan UMKM untuk memperkuat tata kelola usaha dan memperluas akses permodalan.

Pada puncak festival, pengunjung dapat menikmati beragam kegiatan yang memadukan budaya, kreativitas, kuliner, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Sejumlah kompetisi yang digelar antara lain Seni Tari Kontemporer, Kie Raha Got Talent, Salawaku Outfit of the Day, Salawaku In Frame Challenge, dan Salawaku Sea Through Lens.

Festival ini juga menghadirkan Halal Chef Competition dan Salawaku Barista Competition untuk mendorong kreativitas sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kuliner lokal.

“Alsya MCI 13 turut hadir sebagai juri Halal Chef Competition sekaligus narasumber workshop pengolahan pangan lokal,” katanya.

Selain kompetisi, masyarakat juga dapat mengikuti workshop pangan lokal, Zumba, donor darah, dan berbagai permainan. Musisi Adrian Khalif turut dihadirkan untuk memeriahkan puncak Festival Salawaku 2026.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, BI berharap Festival Salawaku menjadi ruang promosi, pengembangan kreativitas, sekaligus perluasan jejaring pemasaran bagi pelaku UMKM.

Perkuat kolaborasi agar UMKM naik kelas

Handi menegaskan, pengembangan UMKM membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat dilakukan hanya oleh satu lembaga.

Karena itu, BI mendorong penguatan sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.

Kolaborasi tersebut diperlukan untuk mengatasi berbagai hambatan yang masih dihadapi pelaku usaha, mulai dari kemudahan perizinan, peningkatan kapasitas, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.

“Festival Salawaku diharapkan menjadi momentum mempererat kerja sama berbagai pihak sekaligus membangun kesadaran bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi,” harapnya.

Melalui filosofi salawaku sebagai perisai, BI berharap UMKM Maluku Utara semakin tangguh dan adaptif dalam menghadapi tantangan ekonomi. Di saat yang sama, pengembangan usaha diharapkan tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya daerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *