HALUT (MALUTTODAY) – Senja jatuh tepat di ufuk barat. Panoramanya terasa hangat disertai angin semilir lembut. Di sana juga nampak kokohnya gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.
Bagi penikmat matahari terbenam, semburat senja ini dapat dinikmati di Pulau Meti. Di sini, menyajikan pemandangan langit sore yang indah.
Perjalanan ke pulau eksotis dan bersejarah ini dapat ditempuh melalui Desa Mawea, Kecamatan Tobelo Timur.
Dikutip dari Antaranews, Kamis (30/7/2026), Pulau Meti dulunya merupakan salah satu markas pertahanan Jepang di masa perang dunia ke II.
Maluttoday berkesempatan mengunjungi Pulau Meti, atas undangan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Maluku Utara dalam gelaran Capacity Building Media Partner, pada tanggal 28-31 Juli 2026.
Selain disuguhi keindahan, konsep wisata di Pulau Meti ini berbasis lingkungan. Berikut rangkaian perjalanan menuju Pulau Meti.

Menyeberang dari Desa Mawea ke Meti
Dari Desa Mawea, hanya satu moda laut tersedia, warga setempat menyebutnya perahu ketinting.
Pengunjung hanya cukup membayar Rp 20.000 per orang untuk sekali jalan.
“Awalnya Rp 15 ribu, karena (bahan bakar minyak) BBM naik, terpaksa tarifnya juga kita naikkan menjadi Rp 20 ribu,” kata koordinator ketinting di Desa Mawea, Om Nus.
Dengan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan ke Pulau Meti, pengunjung akan disuguhi pemandangan laut lepas, dengan banyak pulau kecil di sekitarnya.
Pulau Meti dapat dibedakan dengan pulau-pulau lainnya. Dari kejauhan akan terlihat dermaga panjang menjorok ke laut, bangunan serupa rumah besar dan gazebo berjejer di tepi pantai.
Perahu ketinting tidak bersandar di dermaga panjang tersebut, karena akses naiknya terlampau tinggi. Sehingga, sang motoris ketinting akan mendaratkan perahunya di bibir pantai.
Saat pertama menginjakkan kaki di pulau ini, akan disambut putihnya pasir nan halus, air laut biru jernih, dan kehijauan yang bersih serta tembus pandang.

Wisata Berbasis Lingkungan
Tidak keseluruhan pulau dikelola oleh Meti Cottage, dan masih terbatas pada titik-titik destinasi tertentu.
“Kita sudah ada sejak tahun 2017, bulan April,” kata Pengelola Meti Cottage, Mas Adi sapaan akrab Supriadi.
Pengelola sendiri mengaku menjalankan aktivitas wisata di pulau ini secara mandiri dan berbasis lingkungan.
Maka, jangan heran jika mendapati bangunan, sebagian kursi dan meja di pulau ini didominasi bahan limbah kayu. Sementara atap bangunannya menggunakan sisa ranting, daun-daun pohon dan bambu.
Pengelola Meti Cottage juga selalu mengkampanyekan menjaga lingkungan kepada para pengunjung yang datang melalui pengeras suara.
“Bapak dan ibu perlu diperhatikan dan perlu kami tekankan untuk tidak membuang sampah plastik dan puntung rokok di laut,”ujar Mas Adi mewanti-wanti.
“Selain itu, karena sudah musim kemarau di Meti lagi kesulitan air. Maka, jika di rumah penggunaan air sebanyak 100 persen, di sini agak dikurangi sebanyak 45 persen saja,” tambah Mas Adi.

Sunset di Pulau Meti
Tapi tenang saja, semua akan terbayar dengan panorama alam yang indah di pulau ini.
Menjelang matahari terbenam, ketika cuaca cerah, menjadi aktivitas yang dinantikan di pulau ini. Pengunjung banyak menghabiskan waktu sore demi menikmati senja.
Pedar oranye kekuningan tampak dari kaki langit di ufuk barat. Dipadu dengan hamparan biru laut lepas, menyuguhi senja yang elok dipandang mata.
Dari kejauhan juga nampak gunung Dukono yang masih aktif menghembuskan abu vulkanik, menjadi daya tarik tersendiri di pulau ini.
“Keren sekali ya, sunset di sini. Salah satu pembedanya, di sebelah matahari terbenam ada gunung yang sementara erupsi,” ujar Febri, salah satu pengunjung.

Fasilitas di Meti Cottage
Selain menikmati panorama alam yang indah, di pulau ini pengunjung juga dapat melakukan diving, snorkeling dan surfing.
“Bisa untuk diving, snorkeling. Kalau mau surfing dan lihat sunrise di belakang (pulau),”ujar Mas Adi.
Saat lelah dan lapar setelah melakukan aktivitas seharian di pulau ini, Meti Cottage juga menyediakan penginapan dan restoran dengan aneka makanan dan minuman.
Supriadi mengaku, mengklasifikasikan pengunjung menjadi dua, yakni WNA (warga negara asing) dan WNI (warga negara Indonesia).
“WNA tidak mengenal hari, kalau lagi winter di sana, di sini ramai. Kalau WNI-nya biasanya Jumat, Sabtu, Minggu atau long weekend, biasanya cukup ramai,” terangnya.

Pihak Meti Cottage juga menyediakan paket bundling bagi pengunjung. Fasilitas yang dapat dinikmati mulai dari antar jemput, penginapan, makan dan snack.
Salah satu Manager Meti Cottage, Yani mengatakan, fasilitas kamar yang ada kategori family room di lantai dua dengan harga Rp 4,5 juta untuk empat orang tamu.
Sementara, untuk kategori kamar sweet room bertarif Rp 3,5 juta dan romantic room Rp 2,5 juta.
“Setiap tamu penyewa kamar akan mendapatkan fasilitas welcome drink, tiga kali makan, dua kali snack, dan antar jemput menggunakan katinting. Yang membedakan di ukuran kamar dan tempat tidur,”jelas Yani.
Ia menambahkan, jika pengunjung sekedar berwisata tanpa menginap hanya dikenai tarif Rp 100 ribu per orang, dan dapat welcome drink mocktail orang an sepiring pisang goreng.
“Termasuk juga fasilitas sabun, shampo dan kamar mandi untuk membilas usai renang. Antar jemput tidak termasuk,”jelas dia.
Tertarik menikmati panorama dan keindahan di Pulau Meti?






















