BI Catat 194.996 UMKM di Maluku Utara, Kredit Justru Turun 6,77 Persen

TERNATE (MALUTTODAY) – Bank Indonesia (BI) terus mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Maluku Utara agar mampu meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah UMKM di Maluku Utara mencapai 194.996 unit usaha. Dari jumlah tersebut, sekitar 95 persen merupakan usaha mikro, sedangkan sisanya terdiri dari usaha kecil dan menengah.

“Konsentrasi UMKM terbesar berada di Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Selatan,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Handi Susila, dalam pemaparan pada kegiatan Media Briefing, Selasa (3/11/2026).

Besarnya jumlah UMKM tersebut menunjukkan peran penting sektor ini dalam menopang perekonomian daerah, terutama melalui penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi yang inklusif.

Secara nasional, UMKM juga menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi tahun 2025, jumlah UMKM mencapai sekitar 57 juta unit atau 99 persen dari total unit usaha.

Sektor ini menyerap 97 persen tenaga kerja nasional, berkontribusi sebesar 60,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau senilai Rp 14.523 triliun, serta menyumbang 15,7 persen terhadap total ekspor nasional.

Kredit UMKM Maluku Utara Tertekan

Di tengah besarnya potensi tersebut, sektor UMKM di Maluku Utara masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal akses pembiayaan perbankan.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan di Maluku Utara pada September 2026 sebesar 5,56 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,22 persen.

“Pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat sebesar 5,56 persen secara tahunan, melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,22 persen,” ungkap Handi.

Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh kontraksi kredit modal kerja dan kredit investasi. Kondisi ini mengindikasikan korporasi masih menahan ekspansi usaha di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan biaya produksi.

Tekanan juga terjadi pada pembiayaan sektor UMKM. Pada September 2026, kredit UMKM di Maluku Utara mengalami kontraksi sebesar 6,77 persen secara tahunan.

Selain mengalami kontraksi, penyaluran kredit UMKM juga masih terkonsentrasi pada sektor perdagangan. Sektor ini menyerap sekitar 67 persen dari total kredit UMKM di Maluku Utara per September 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus mendorong penyaluran kredit ke berbagai sektor usaha produktif lainnya.

BI Terapkan Tiga Strategi Pengembangan UMKM

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Bank Indonesia mendorong penguatan UMKM melalui tiga pilar strategi, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan.

“Untuk memperkuat daya saing dan mendorong pertumbuhan UMKM, Bank Indonesia menerapkan tiga pilar strategi pengembangan, yaitu korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan,” jelas Handi.

Pilar pertama adalah korporatisasi, yaitu mendorong UMKM agar memiliki kelembagaan dan tata kelola usaha yang lebih kuat. Upaya ini dilakukan melalui inovasi serta digitalisasi proses bisnis sehingga pelaku usaha mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Pilar kedua adalah peningkatan kapasitas. Strategi ini mencakup penguatan manajemen usaha, peningkatan kualitas produk, perluasan akses pasar, pengembangan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Adapun pilar ketiga adalah pembiayaan, yang berfokus pada perluasan akses pelaku UMKM terhadap sumber pendanaan yang mudah dijangkau dan berkelanjutan.

Melalui ketiga strategi tersebut, Bank Indonesia berharap UMKM di Maluku Utara tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga berkembang, meningkatkan skala usaha, dan memperluas kontribusinya terhadap perekonomian daerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *