Berkunjung ke MUBI, Lorong Waktu Sejarah Indonesia

JAKARTA, MALUTTODAY – Museum Bank Indonesia (MUBI) terletak di kawasan bersejarah Kota Tua, tepatnya di Jalan Pintu Besar Utara No 3, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat.

MUBI menempati gedung BI Kota yang dibangun pada 1828 dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Bangunan ini memiliki sejarah tinggi, karena pada masanya merupakan gedung milik De Javasche Bank (DJB).

Bangunan tua yang menyuguhkan kenyamanan bagi pengunjung, tertata apik dan terlihat bersih. Para petugasnya pun sangat ramah dan responsif menjawab pertanyaan pengunjung.

Pengunjung cukup membayar tiket Rp 5.000 untuk umum. Sementara anak dibawah 12 tahun dan lansia gratis. Demikian juga pelajar, mahasiswa juga tidak dipungut biaya cukup menunjukan kartu identitas.

Sebelum masuk, pengunjung akan diminta menitipkan tas ke dalam loker yang telah disediakan. Untuk dompet dan handphone dapat dibawa, petugas akan meminjamkan dompet plastik transparan kepada pengunjung.

Dengan dipandu oleh seorang edukator MUBI, pengunjung akan menyusuri setiap ruangan di dalam gedung MUBI. Seakan-akan diajak berpergian ke masa lalu.

Semakin dalam jauh menyisir setiap ruangan, pengunjung serasa mengikuti perubahan dari satu era ke era lainnya.

Penelusuran pertama akan dimulai dari sebuah lobby yang pada masanya, tempat ini merupakan tempat para kasir melayani nasabah.

Nuansa kolonial Belanda sangat terasa saat memasuki area museum, karena meliputi dinding, bilik dengan terali besi, lantai keramik, hingga bagian dalam ruangan itu masih ada yang menggunakan bahan atau material dari zaman Belanda.

Kesan klasiknya makin terlihat dengan ruang yang megah dan luas dengan langit-langit yang tinggi.

Pengunjung selanjutnya akan dibawa memasuki lorong sejarah Indonesia, mulai dari masa pemerintahan Belanda hingga masa proklamasi.

Secara visual ditampilkan dengan narasi dan foto, serta patung yang mengilustrasikan kejadian pada saat itu.

Lorong tersebut merupakan garis waktu (timeline) terdapat penjelasan sejarah berdirinya Bank Indonesia, koleksi uang kuno era bahari atau kerajaan hingga uang modern.

Kemudian terdapat koleksi masa kejayaan rempah meliputi pala, cengkih, kayu manis. Di mana, pada masa itu rempah bahkan lebih mahal dari emas.

Setiap ruangan secara periodik akan menampilkan momen-momen bersejarah Indonesia dari sudut pandang perekonomian yang terjadi pada tiap periodenya.

Selanjutnya, para pengunjung masih diajak untuk berpetualang di masa lalu. Terus menyusuri ruangan-ruangan yang pernah dipakai oleh kompeni, seperti ruang rapat ataupun ruang gubernur.

Di ruangan ini, pengunjung serasa memasuki zaman pemerintahan Belanda karena ruangan yang masih tidak berubah dan sangat terawat.

Material utama kayu bisa terlihat di dinding dan lantai. Bahkan masih ada beberapa perabot yang diletakkan di ruangan tersebut juga menggunakan kayu.

Ada terdapat sebuah ruangan yang penuh dengan tumpukan emas batangan. Berada di dalam kotak kaca pelindung, emas batangan itu tampak bersinar di ruangan.

Menurut keterangan di museum BI, emas disimpan sebagai cadangan devisa negara dan biasanya digunakan pada saat negara mengalami krisis politik dan ekonomi.

Usai menjelajahi ruang penuh emas batangan, pengunjung akan dibawa ke ruangan numismatik. Di ruangan ini terdapat koleksi penuh uang dari seluruh dunia.

Ruang numismatik dirancang dengan pencahayaan dan udara sedemikian rupa untuk melindungi kerusakan koleksi secara permanen Tak hanya koleksi uang dari masa kerajaan di nusantara, masa penjajahan Belanda, Jepang hingga uang modern. Di ruang ini juga terdapat koleksi uang dari banyak negara mulai dari uang kertas, uang koin, uang yang dipakai saat ini maupun uang lawas. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *