Kapolda Terima Kunjungan GMNI Maluku Utara Bahas Konflik Sosial dan Tambang Ilegal

Kapolda Maluku Utara,Irjen Pol Waris Angono saat menerima audiens dengan GMNI Malut, Rabu (16/4/2025). (foto Humas)

MALUTTODAY, TERNATE – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Maluku Utara menyambangi kantor Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara. GMNI diterima langsung oleh Kapolda Malut, Irjen Pol Waris Angono di ruang kerjanya. Rabu (16/4/2025).

Dalam agenda itu, Ketua DPD GMNI Maluku Utara, Alfon Gisisi menyampaikan sejumlah isu krusial yang menjadi perhatian organisasi, mulai dari konflik sosial pasca-idul fitri, hingga maraknya aktivitas tambang ilegal.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, konflik antar warga sempat terjadi di Desa Kira, Kecamatan Galela pasca-lebaran. Adapun terjadi rentetan ledakan bom molotov mencapai sekitar 15 kali. Menyebabkan korban luka akibat ledakan bom sebelum sempat dilempar.

“Konflik ini dipicu oleh perkelahian antar pelajar yang kemudian meluas menjadi bentrokan antara Desa Kira dan Desa Duma,” ungkapnya.

Lanjutnya, GMNI berencana melakukan dialog antar warga untuk meredakan konflik. Namun, terpaksa ditunda karena kondisi keamanan yang belum kondusif.

Sebagai solusi jangka panjang, GMNI mendorong adanya kolaborasi antara aparat desa dan aparat keamanan dalam merumuskan peraturan yang mengatur perilaku masyarakat dan remaja.

Dia juga menyoroti adanya penambangan ilegal yang kembali mencuat. Setelah keluarnya pernyataan tegas Kapolda Malut terkait penertiban tambang.

“Kami mengapresiasi keseriusan Kapolda dalam menangani tambang ilegal yang merugikan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol Waris Angono menyampaikan, bahwa salah satu akar penyebab gangguan kamtibmas adalah peredaran minuman keras ilegal seperti cap tikus.

Ia menilai perlu pengaturan distribusi yang lebih baik, seperti melalui koperasi resmi, agar tidak meresahkan masyarakat.

Waris kemudian mengusulkan pembentukan komunitas perdamaian, sebagai langkah strategis untuk meredakan konflik, termasuk menggelar acara makan bersama antar kampung sebagai simbol rekonsiliasi.

Bahkan, jika dibutuhkan, pihak kepolisian siap mengalokasikan anggaran untuk mendukung kegiatan semacam ini.

Waris juga menekankan pentingnya edukasi damai kepada generasi muda melalui sekolah-sekolah.

“Kami mengajak mahasiswa untuk menyuarakan ide-ide progresif dengan tertib. Aksi demonstrasi silakan dilakukan, tapi jangan merusak fasilitas apalagi mengorbankan nyawa,” tegas Waris.

Waris kembali menegaskan, komitmennya agar seluruh masyarakat, khususnya di lingkar tambang benar-benar merasakan manfaat dari pengelolaan sumber daya alam.

Pertemuan ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai tantangan, dialog dan kerja sama antara mahasiswa dan aparat keamanan tetap menjadi kunci dalam menciptakan perdamaian berkelanjutan di Maluku Utara. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *