TERNATE (MALUTTODAY) – Kenaikan harga berbagai jenis plastik juga terjadi di Kota Ternate, Maluku Utara. Kenaikan ini dipicu berkurangnya pasokan bahan baku bijih plastik dan naiknya tarif jasa ekspedisi.
Imron, salah satu pemilik toko plastik di Kota Ternate, mengatakan, jika kenaikan ini sudah berlangsung sejak dua minggu sebelum lebaran Idul Fitri lalu.
Dia mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi kenaikan harga plastik ini karena terbatasnya pasokan bahan baku bijih plastik. Hal ini disebabkan penutupan selat Hormuz akibat.
“Saya dapat informasi dari distributor di Surabaya, Solo dan di Jakarta kalau kenaikan harga ini dipicu minimnya pasokan bahan baku. Distribusi bijih plastik ke Indonesia terganggu akibat penutupan selat Hormuz,” jelas Imron, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, konflik geopolitik sebabkan penutupan selat Hormuz. Sehingga mengganggu jalur distribusi minyak mentah. Sementara, sebagaimana diketahui bahan baku bijih plastik merupakan turunan dari minyak mentah.
Selain itu, kata Imron, pihak jasa ekspedisi dari Pulau Jawa juga menaikan tarif pengiriman sebesar 30 persen. Dengan demikian, hal ini mempengaruhi kenaikan harga plastik di daerah.
Imron mengakui jika pelanggannya sering mengeluhkan kenaikan harga plastik yang dijualnya. Ia mencontohkan plastik ukuran 15 centimeter yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 7.000, saat ini naik menjadi Rp 13.000 atau terjadi kenaikan dengan presentase sebesar 70 persen.
“Iya, hampir 90 persen pelanggan mengeluhkan kenaikan harga tersebut. Kenaikan biaya ekspedisi sebesar 25 hingga 30 persen juga ikut mempengaruhi,” ujar Imron.
Cindar, pedagang gorengan dan minuman ini juga merasakan dampak kenaikan harga plastik ini. Dia mengaku pasrah dan belum berniat menaikan harga jual dari dagangannya.
Ia belum memikirkan alternatif pengganti plastik sebagai kemasan barang jualannya. Sehingga, ia sangat berharap pemerintah dapat menekan harga jual plastik. Sebab, jika harga terus menerus naik tentu akan berdampak dan merugikan usaha miliknya.
“Saya harap ada kebijakan pemerintah agar harga plastik dapat segera kembali normal dan tidak membebani usaha saya,” harap Cidar.
Kondisi ini juga dirasakan oleh Dewi, salah satu reseller yang menjual berbagai plastik di Halmahera Selatan. Ia mengungkapkan, jika sebelumnya harga satu karung plastik Rp 1.050.000, kini naik menjadi Rp 1.500.000.
Menurut Dewi, situasi ini memaksanya menaikkan harga jual terhadap pelanggannya. Selain itu, ia harus mengurangi pembelian dalam jumlah kecil atau eceran.
“Saya juga terpaksa tidak menyediakan tas kresek jika pembelanjaan dibawah Rp 10.000,” ungkap Dewi. (*)





















