TERNATE (MALUTTODAY) – Bank Indonesia (BI) Maluku Utara (Malut) menggelar Halal Fair di gedung Duafa Center, Kota Ternate pada Rabu 4/3/2026). Iven tahunan ini berlangsung selama empat hari, mulai 4-7 Maret 2026.
Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia timur, dan Maluku Utara sebagai pusatnya.
“Malut Halal Fair merupakan bagian dari strategi memperkuat ekosistem halal daerah melalui sinergi lintas sektor, mulai dari pelaku UMKM, perbankan syariah, lembaga zakat, hingga pemerintah daerah,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Malut, Handi Susila.
Handi mengungkapkan, bahwa penguatan ekosistem halal tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi, inovasi, dan literasi yang berkelanjutan agar ekonomi syariah menjadi sumber pertumbuhan baru yang inklusif.
Dia juga menjelaskan, jika secara nasional, kinerja Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar) 2025 menunjukkan tren positif. Sektor Halal Value Chain (HVC) tercatat tumbuh 6,21 persen (yoy) dengan kontribusi terhadap PDB nasional mencapai 25,45 persen pada 2024.
“Sektor makanan dan minuman halal menjadi kontributor utama dengan capaian net ekspor sebesar 30,36 miliar dolar AS. Sementara sektor pariwisata ramah muslim tumbuh di kisaran 5–7 persen, dan fesyen muslim tetap mencatatkan pertumbuhan 3,51 persen (yoy), meski menghadapi tantangan perlambatan permintaan ekspor global,” jelas Handi.
Sementara itu, kata Handi, dari sisi keuangan, pembiayaan perbankan syariah nasional tumbuh 9,66 persen (yoy) pada akhir 2025. Adapun dana zakat dan infak/sedekah yang dikelola lembaga pengelola tetap tumbuh positif 1,43 persen (yoy), dengan porsi terbesar berasal dari dana zakat sebesar 78,05 persen. Indeks Literasi Eksyar juga meningkat menjadi 50,18 persen pada 2025.Ia menekankan, dengan jumlah penduduk muslim sekitar 87 persen dari total populasi, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah global. Potensi tersebut turut tercermin di Maluku Utara. Dari total 1,36 juta jiwa penduduk, sekitar 75,7 persen atau 1,026 juta jiwa merupakan muslim.
“Pangsa pasar yang besar ini menjadi modal strategis dalam pengembangan industri halal dan keuangan syariah di daerah,” ujar Handi.
Handi menambahkan, dari sisi sektor keuangan daerah, perbankan syariah di Maluku Utara menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Pada triwulan IV 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1,2 triliun, sementara total pembiayaan mencapai Rp1,5 triliun.
“Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) berada di level 119,01 persen, mencerminkan fungsi intermediasi yang berjalan optimal dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat dan pertumbuhan sektor riil,” ungkap Handi.
Dia berharap, melalui Malut Halal Fair 2026, Bank Indonesia Maluku Utara menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari pameran produk halal UMKM, business matching, edukasi literasi keuangan syariah, hingga kampanye gaya hidup halal.
“Ajang ini diharapkan menjadi katalisator dalam memperluas pasar produk halal Maluku Utara, sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal di tingkat nasional maupun internasional,” harap dia. (*)





















